Kerinduan Ini Membunuhku

Sebelumnya saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf yah guys jika selama ini saya ada salah kata, baik disengaja maupun tidak. Semoga kalian bisa memaafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat.

 
( Mamah dan Papah saya )
                                                      
Udah lama nih saya gak nulis lagi, maklum lagi sibuk penelitian untuk menggarap skripsi dan juga selalu mencari inspirasi dulu pastinya untuk tulisan saya hehehehe.

Langsung aja, kali ini saya ingin bercerita tentang perasaan saya saat ini. Sekarang ini saya sedang menyendiri dan menangis sambil membuat tulisan ini. Posisi saya menghadap tembok agar gak keliatan kalau lagi sedih. 

Kalian tau  apa sebabnya? Karena lebaran tahun lalu dan lebaran tahun ini, saya gak bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga saya. Saya sementara tinggal di Makassar karena kuliah sedangkan orangtua dan kakak laki-laki saya berada di Bekasi dan mereka memang tinggal disana. Orangtua saya tidak bisa datang ke Makassar karena belum ada rezeki. Saya pun rela bertahan di tempat perantauan meskipun libur tiba karena saya tidak ingin membebankan keadaan ekonomi orangtua.



Hari Raya Idul Fitri pun tiba. Saya shalat di halaman Sekolah Menengah Pertama yang ada di Kelurahan Sudiang ( Makassar ) bersama tante, om dan sepupu-sepupu saya. Saat saya mendengar khotbah shalat Idul Fitri yang berisikan tentang perjuangan dan pengorbanan orangtua selama hidupnya untuk anak-anaknya, tiba-tiba saya menitikan  air mata. Seketika saya rindu berat dengan keluarga saya. Saya juga mengingat seberapa banyak dosa karena sikap, perlakuan, perbuatan saya kepada orangtua dan kakak saya. 

                                            Foto ini saya ambil dari shalat teraweh hehehe
Selain itu, yang membuat saya paling sedih adalah ketika saya harus berpura-pura kuat didepan orang lain karena saya melihat mereka bisa tertawa bersama dengan keluarganya, mereka bisa berkumpul bersama, mereka bisa saling berpelukan, mereka bisa mencium orangtuanya, mereka bisa bersungkeman dengan orangtuanya, saling bermaaf-maafan secara langsung dengan orangtuanya sedangkan saya TIDAK. Ya Allah, hati ini rasanya sakit sekali.

Untuk menyembunyikan rasa sedih itu, saya lekas masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran air agar orang lain tidak mendengar suara saya. Saya hanya bisa melampiaskan rasa rindu dengan menangis sekencang-kencangnya sampai mata ini memerah dan membengkak. Dada pun serasa sesak. Saya mencoba untuk menenangkan diri saya sendiri. 

Sampai sekarang pun saya masih merasakan kesedihan yang paling mendalam. Ketika ada yang mengajak saya bercanda tentang keberadaan orangtua saya, ada yang menegur dan memarahi saya, ada perkataan dan perbuatan orang lain yang membuat saya tersinggung seketika saya langsung menangis dan marah. Tolong maklumi sikon (situasi dan kondisi) saya karena saya masih baper dari hal diatas sebelumnya.

Mungkin menurut kalian kalau saya ini lebay. Ya memang. Tapi coba kalian pikir, anak perantauan mana yang tidak rindu dengan orangtuanya?

Momen bahagia dalam hidup ini adalah dengan bertemu keluarga.

 
Saya? saya hanyalah anak perantau dan saya tidak bisa menikmati momen itu. Saya hanya bisa melampiaskan rindu saya dengan melihat foto keluarga. Saya mencari kesibukan sendiri dengan mendengar lagu dan menyendiri. Bahkan saya tidak bisa mencicipi masakan ibu saya. Ketika saya sakit pun, saya hanya bisa menyembuhkan diri sendiri karena orangtua saya tidak ada disamping saya. 


Tetapi, saya selalu berusaha untuk tersenyum selebar-lebarnya dihadapan orang lain meskipun saya menahan rasa kesedihan yang terdalam. 

Untuk menyemangati diri sendiri, saya langsung menelfon orangtua saya yang ada di Bekasi. Saya rindu dengan senyuman dan tawa papah, mamah dan kakak saya ketika mendengar suara mereka di telfon. Hanya suara mereka yang dapat melampiaskan rasa rindu saya. Saya pun mencoba untuk menghapus air mata dan berusaha untuk kuat.






Mamah bilang” Sabar yah dek, nanti kalau ada rezeki pasti mamah, papah dan kakakmu datang ke Makassar untuk menengok kamu. Insha Allah Idul Adha kita semua datang kesana. Adek udah dewasa, gak boleh cengeng. Adek kan orangnya kuat dan tegar, bukan anak manja lagi. Mamah bangga banget lho punya adek karena adek sekarang udah bisa mandiri, bisa jauh dari orangtua, adek gak suka mengeluh dan merengek, adek bisa hidup tanpa bergantung sama orang lain apalagi sama mamah papah, adek bisa cari uang jajan sendiri. Tujuan kamu di Makassar kan untuk menyelesaikan studi, setelah lulus nanti mamah jemput adek pulang ke rumah (di Bekasi) dan adek cari kerja disini kok. Nanti kita bisa ngumpul lagi kayak dulu.  Inget dek, belum tentu orang lain bisa menjalani hidupnya seperti kamu sebagai anak perantau. Jangan terlalu dimasukin ke hati kalau ada yang bercanda ke kamu, kamu harus membalas dengan candaan juga. Semangat terus yah dek gak boleh sedih”.

 
Banyak motivasi-motivasi yang mamah berikan ke saya. Karena saya selalu mengingat kata-katanya mamah, rasa kesedihan dan kerinduan yang ingin membunuh saya ini seketika mulai menghilang dan terobati. Terima kasih banyak yah mamah udah selalu menyemangati Fifi.
 
Untuk para anak perantau jika kalian merasakan hal yang sama dengan saya, kalian jangan bersedih hati yah cukup saya saja. Jangan memperlihatkan kesedihan kalian kepada orang lain agar tidak menyusahkan orang lain. Saya juga takut tiba-tiba ada orang lain yang menyalahgunakan kesedihan kita. Bukannya seudzon tetapi hanya mengingatkan saja. Lillahi Ta’ala. Ketika kalian kesal juga jangan melampiaskan amarah kalian ke orang lain, cukup kalian sendiri dan Allah SWT yang tahu. Hanya Allah lah tempat kita menumpahkan segala rasa yang ada di hati.

Untuk yang bukan anak perantau, jangan lupa untuk selalu bersyukur dan jangan suka mengeluh karena kalian tidak merasakan hal yang sama dengan saya.

Anak perantau harus memperjuangkan studinya di tempat yang jauh demi masa depan. Anak perantau pantang mudik sebelum sukses.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Salam semangat.. Hidup anak perantau!!!!